27 Haziran 2016 Pazartesi

Pendahuluan

Pendahuluan

Yesus (Isa a.s.) , sebagaimana rasul-rasul lainnya, merupakan seorang hamba pilihan Allah yang diutus kepada umat manusia untuk menyeru kepada ja l an yang benar. Meskipun demikian, ada beberapa sifat Yesus (Isa a.s.) yang membedakannya dari rasul rasullainnya. Yang terpenting dari semua itu adalah dia telah diangkat Allah dan akan kembali lagi ke bumi.
Berbeda dengan yang diyakini oleh mayoritas manusia, Yesus (Isa a.s.) tidaklah wafat disalib dan dibunuh ataupun meninggal dengan tujuan dan alasan tertentu. Al-Qur’an memberitakan kepada kita bahwa’mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi Allah mengangka tnya kepada Nya. Tidak ada satu ayat pun yang menu n jukkan peristiwa pembunuhan terhadapnya a tau bahwa dia telah dibunuh, terlepas dari ayat yang menotak bahwa hal tersebut telah terjadi. Selainitu, Al-Qur’an membeberkan kepada kita beberapa peristiwa dari kehidupan Yesus (Isa a.s.) yang tidak pernah terjadi. Kemudian, kedatangannya yang kedua kali ke bumi merupakan suatu prasyarat akan terjadinya peristiwa-peristiwa ini. Tidak ada keraguan bahwa wahyu-wahyu yang terdapat dalam Al-Qur’an akan benar-benar terjadi.
Sebaliknya, kebanyakan orang mengasumsikan bahwa Yesus (Isa a.s.) telah wafat beberapa ribu tahun yang lalu dan tidak mungkin akan kembali. Pendapat yang keliru ini muncul akibat kurangnya pengetahuan tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah. Suatu penelitian yang dilakukan dengan cermat dan hati-hati tentang Al-Qur’an akan menghasilkan suatu pemahaman yang akurat akan ayat-ayat tentang Yesus (Isa a.s.) .
Rasululah saw. juga lbersabda bahwa Yesus (Isa a.s.) akan diutus kembali ke bumi dan masalah waktunya, yang disebut dengan "akhir zaman", kemungkinan adalah suatu masa di mana bumi pada saat itu akan mencapai kesejahteraan, keadi l an, dan perdamaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Akhir zaman" ditujukan pada suatu periode waktu yang mendekati akhir kehidupan dunia. Menurut Islam, pada masa tersebul, akan ada cobaan-cobaan yang mengerikan dari Dajjal, banyak terjadi gempa bumi, dan munculnya Ya'juj dan Ma'juj. Setelah itu, nilai-nilai Al-Qur’an akan menang dan manusia akan mengikuti secara ekstensif nilai-nilai yang diperkenalkannya.
Dalam impian mereka, manusia selalu merin dukan sesuatu yang lebih baik, suatu pemandangan yang lebih indah, makanan yang lebih enak, suatu masyarakat yang Jebih menjanji kan secara sosial ...
Pendapat yang lain mengungkapkan bahwa "akhir zaman" adalah suatu periode yang menca kup keseluruhan konsep, "yang lebih baik""yang lebih indah", dan sebagainya. Saat itu merupakan suatu masa yang diberkahi yang dirindukan manusia sejak lama. Saat itu merupakan puncak kesejahte raan dan keadaan yang berl impah-limpah, keadilan, dan perdamaian. Saat itu merupakan masa di mana keberkahan-keberkahan ini akan menggantikan ketidakadilan, kerusakan moral, konflik, dan peperangan. Saat itu merupakan masa yang benar-benar di berkati ketika nilai-nilai moral islam akan terpatri di setiap aspek kehidupan.
Bukti bahwa Yesus (Isa a.s.) tidak meninggal, bahwa dia telah diangkat ke haribaan Allah, dan bahwa dia akan kembali lagi ke bumi akan dikaji dalam buku i ni dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an yang terang dan nyata. Meskipun demikian, sebelum dimulai, akan bermanfat untuk mengingat kan kembali diri kita beberapa informasi dasar yang secara langsung berhubungan dengan bahasan ini.

Agama di Sisi Allah Adalah Islam

Agama di Sisi Allah Adalah Islam

Sepanjang sejarah, Allah telah mengutus para rasui-Nya kepada umat manusia. Para rasul Allah menyeru seluruh umat manusia kepada jalan yang benar dan menyampaikan kepada mereka ajaran-ajarannya. Tetapi pada saat ini, ada suatu keyakinan yang berkembang bahwa apa yang di wahyukan metatui para rasut kepada manusia me rupakan agama yang berbeda. Hal ini merupakan pendapat yang keliru. Agama yang diwahyukan Allah kepada manusia di masa yang berbeda adalah sama. Misatnya, Yesus (Isa a.s.) telah mengha pus beberapa larangan yang dibawa oleh agama sebelumnya. Walaupun demikian, tidak ada perbe daan yang berarti dalam ajaran agama-agama yang diwahyukan Allah. Apa yang telah diwahyukan kepada para rasul sebelumnya, kepada Musa a.s., Isa a.s., dan kepada rasul terakhir Muhammad saw. pada dasarnya adalah sama,
"Katakanlah, 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, lsma'il, lshaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberi kan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dt antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri. 'Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali lmran: 84-85)
Sebagaimana tertul is da lam ayat tersebut, agama yang benar yang diturunkan untuk umat man usia adalah Islam. Apa yang kita pahami dari Al-Qur’an adalah bahwa sel uruh rasul menyeru uma tnya kepada jalan yang sama. Allah menggambarkan fakta ini dalam ayat-Nya,
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkan lah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali kepada-Nya." (asy-Syuura: 13)
Dalam ayat yang lain Al lah berfirman,
"... dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu... " (al-Maa'idah: 3)
Allah telah mengutus para rasul-Nya untuk me nyampaikan agama ini, satu-satunya agama yang Dia ridhai, kepada seluruh umal manusi a dan ke m udian memberikan peringatan kepada mereka. Setiap orang, kepada mereka yang Allah utus dan kepada siapa pun yang kemudi an diserukan agama ini, mendapatkan beban untuk mengikutinya.
Meskipun demikian , beberapa kelompok masyarakat ada yang mernerima ajaran tersebut, namun ada juga yang menotaknya. Seba liknya, pada beberapa kelompok masyarakat, agama yang benar tersebut diselewengkan menjadi ajaran yang sesa t setelah kemati an rasu l mereka. Hal ini tertu l is dalam Al-Qur’an,
"Sesungguhnya, agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang orang yang telah diberi Alkitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. " (Al i lmran: 19)
Salah satu dari kelompok masyarakat yang tersesat dari agama yang benar adalah Bani Israel. Sebagaimana yang diinformasikan dalam Al-Qur’an, Allah telah mengu tus banyak rasul kepada Bani Israel; mereka telah menyampaikan agama yang benar. Akan tetapi, setiap masa, mereka menentang seorang rasul atau, setelah kematian rasul tersebut, mereka mentransformasikan agama yang benar tersebut menjadi su atu a jaran yang sesat. Sel a initu, dari Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa bahkan saat Musa a.s. masih hidup pun, Bani Israel menyembah sapi betina yang terbuat dari emas selama masa ketidakhadirannya yang sebentar saja (lihat surah Thaahaa:83-94). Setel ah Nabi Musa a.s. tiada, Allah mengutus beberapa nabi lainnya kepada Bani Israel untuk memberi kan peringatan kepada mereka dan yang terakhir dari para mbi yang diutus itu adalah Yesus (Isa a.s.) .
Seumur hidupnya, Yesus (Isa a.s.) menyeru umatnya untuk hidup dengan agama yang diturunkan Allah dan mengingatkan mereka untuk menjad ihamba Allah yang benar. Dia memerintahkan mereka dengan ajaran yang ada di dalam Injil wahyu yang diturunkan kepadanya yang sebagian dari ajaran tersebut masih ada dalam kitab lnjil dewasa ini. Kitab tersebut membenarkan ajaran ajaran Taurat-wahyu yang diturunkan kepada Musa a.s. yang sebagian ajarannya masih ada dalam Taurat atau Perjanjian tama yang kemudi an diseleweng kan. Mengkritisi ajaran-ajaran yang tidak benar dari para rabi yang bertanggung jawab atas kemerosotan agama yang benar, Yesus (Isa a.s.) telah menghapus aturan-aturan yang dibuat oleh para rabi itu, yang melaluinya, mereka mendapatkan keuntungan secara personal. Dia menyeru kepada Bani Israel untuk mengesakan Allah, kebenaran yang hakiki, dan berakhlak luhur, sebaga imana firman Allah,
"Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk meng halalkan bagimu sebagian yang telah diharam kan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. " (Ali lmran: 50)
Meskipun demikian, setelah Yesus (Isa a.s.) meninggalkan bumi, beberapa orang pengikutnya yang belakangan mulai merusak wahyu tersebut. Di bawah pengaruh beberapa ide kafir dari bangsa Yunani, mereka mengembangkan keyakinan tentang utrinitas" (Tuhan Bapak, Anak, dan Roh K ud us). Dengan menggunakan nama Kristen, mereka mengikuti suatu agama yang benar-benar berbeda. Sekarang ini, seperempat dari jumlah pendud uk dunia menganut ajaran kristiani yang popu ler d iya kini berdasarkan ajaran Yesus (Isa a.s.) . Akan telapi, kenyataan berkata lain. Bertahun-tahun setelah ketiadaan Yesus (Isa a. s . ), sekelompok orang yang tidak teridentifikasi mengarang kitab yang kita kenai sekarang ini sebagai Perjanjian Baru dan mereka menulisnya dalam bahasa Yunani, sedangkan bahasa Yesus (Isa a.s.) dan murid-muridnya adalah bahasa Aram (Syria sekarang), suatu bahasa yang memiliki kemiripan dengan bahasa Arab. Dari masa ke masa, para sejarawan mengkompilasi tulisan-tulisan ini. Akibatnya, umat kristiani sekarang telah kehilangan banyak ajaran Yesus (Isa a.s.) yang asli.
Setelah Yesus (Isa a.s.) , Allah mengutus seorang rasul lain yang berasal dari suatu suku yang berbeda agar melalui rasul-Nya ini , Allah dapat menurunkan wahyu berupa agama yang asli ke dunia dan Dia membekalinya dengan sebuah kitab suci. Rasul itu adalah Nabi Muhammad saw. dan kitab tersebut adalah Al-Qur’an, satu-satunya wahyu yang tidak diubah.
Al-Qur'an diperuntukkan bagi seluruh umat manusia di dunia. Seluruh umat manusia di semua masa akan mendapatkan kewajiban beriman terhadap kitab ini karena mereka diperintahkan untuk mengikuti ajaran Islam. Mereka akan diadili berdasarkan Al-Qur’an pada hari perhitungan. Pada masa kita khususnya, seluruh bangsa di dunia secara esensi disatukan dan hampir menjadi seperti suatu suku yang satu; terima kasih kepada penerobosan di bidang teknologi. Seorang akademisi menunjukkan bahwa dunia dewasaini sebilgai global village 'desa buana'. Karena itu, hanya ada sebagian kecil manusia di dunia ini yang tidak menyadari keberadaan Al-Qur'an dan yang oleh karenanya pula belum mendapatkan informasi tentang Islam. Walaupun demikian, ada suatu bagian tertentu dari umat manusia yang mempunyai keyakinan pada Al-Qur'an. Di antara mereka ada yang telah beriman, namun kebanyakan dari mereka tidak hidup berdasarkan ajaran-ajaran yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
Kita berharap bahwa Yesus (Isa a.s.) akan kermbali ke bumi dan menyeru umat manusia kepada jalan yang benar. Allah memberikan kabar gembira tentang masalah ini dalam Al-Qur'an. Sebagaimana yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya dalam buku ini, Yesus (Isa a.s.) telah diangkat ke haribaan Allah dan tidak wafat dalam arti fisik. Setelah beberapa masa, dia akan kembali dan menjadikan Islam menang di muka bumi. Upayaterbaik yang dapat dilakukan, baik oleh umat Nasrani maupun umat Islam dunia, adalah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan tamu yang diberkati ini dan tidak mengulangi melakukan perlawanan terhadapnya seperti di masa silam.

Orang yang Berada dalam Kesusahan Memohon Seorang Penolong

Orang yang Berada dalam Kesusahan Memohon Seorang Penolong


"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, matupun anak-anak yang semuanya berdo'a, 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berifah kami penolong dari sisi Engkau!’ ” (an-N isaa’: 75)
Ketika m embaca Al-Qur'an, kita menemukan suatu fakta tertentu: sebelum seorang rasul datang kepada suatu masyarakat, kerusakan sosial dan moral kerap terjadi di sana. Sekali seorang rasul datang ke suatu masyarakat, mereka yang meng ikutinya mencapai kehidupan yang pcnuh keba hagiaan, kedamaian, dan kemakmuran, bahkan di tengah-tengah perjuangan mereka yang mulia untuk mencapai ridha Allah. Akan tetapi, setelah periode yang diberkahi ini, umat manusi a yang telah menik mali kesenangan pada periode ini berada jauh dari nilai- nilai spiritual , menjadi pembangkang, dan puncaknya mereka menjadi orang yang kaiir. Pada beberapa kasus. mereka menyembah tuhan-tuhan selain Allah dan kemudian bertindak tidak adil terhadap diri mereka sendiri dan -secara esensi- mempersiapkan akhir nasib mereka sendiri berakhir di tangan mereka sendiri.
Dalam Al-Qur’an surah Maryam, Allah meng hubungkan kesetiaan, keikhlasan, dan kecemasan yang para rasul rasakan terhadap Allah, dan kemudian memberilahukannya kepada kita tentang bagai mana generasi yang datang kemudian telah benar benar kehil angan keimanan sama sekali. Mereka terlempar jauh karena tingkah l aku dan keinginan mereka sendiri dan tercabutnya nilai-nilai yang ada,
"Mereka itu adalah orang-orang yang relah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersam Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yangtelah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka dalanglah sesudah mereka, pengganli (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu mereka, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. " (Maryam:58-59)
Mereka yang telah menotak tanggung jawab yang telah ditakdirkan, telah mendapatkan azab Allah dalam bentuk bencana yang beragam. Allah menggam barkan kehendak-Nya terhadap orang orang ini,
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan nya pada hari kiamat dalam keadaan buta. " (Thaahaa: 124)
Mereka mengalami penderitaan yang berbeda, seperti ketakutan dan masalah-masalah sosial serta ekonomi yang muncul akibat kem erosotan moral dan ketidakstabilan politik mereka.
Di bawah sistem orang-orang kafir yang zalim, umat manusia yang telah ingkar terhadap wahyu yang diturunkan, mendapat berbagai tekanan dan ketidakadilan. Periode Fir'aun merupakan salu contoh serupa yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Dengan kebesaran pen:garuhnya, Fir'aun member lakukan suatu kehidupan yang mewah dan rakyatnya mengalami penderitaan di bawah kekuasaannya yang tiran.
"Sesungguhnya, Fir'aun telah berbuat sewe nang-wenang di muka bumi dan menjadikan pendllduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesllnggllhnya, Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kewsakan. " (al-Qashash: 4)
Di bawah kondisi seperti itu, di mana rakyal mengalami masalah ekonomi dan sosial, hidup di bawah para pemimpin yang tiran dan tidak adil, kebutuhan akan seorang penolong sangatlah dirasakan. Dia adalah seseorang yang mengubah kembali aspek-aspek dari beragam sistem yang tidak diharap kan yang disebabkan oleh para penguasa yang kafir dan orang-orangnya; ia pun membawa kedamaia n, keadilan, dan keamanan yang datang bersama dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Setelah Nabi Musa a.s., Bani Israel pun menghadapi berbagai kesulitan yang sama di bawah ke kuasaan tiran. Mereka diusir dari rumah dan negeri mereka serta menderita secara berkepanjangan. Menyadari bahwa tidak ada satu pun berhala yang mereka sembah, tidak pula harta mereka miliki, dan tidak pula nenek moyang yang dapat menyelamat kan diri mereka dari kondisi yang sangat tidak diinginkan tersebut, mereka memohon seorang raja kepada Sang Maha Pencipta, seorang penolong yang akan menyelamatkan mereka dari sistem yang kejam tersebut. Allah menjawab do'a orang-orang ini dan mengirim Talut kepada mereka (Saul dalam lnjil).
"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, 'Angkatlah kepada kami seorang raja supaya kamiberperang (dibawah pimpinannya) di jalan Allah. ' Nabi mereka menjawab, 'Mung kin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang. Mereka menjawab, 'Mengapa kami ridak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?' Maka latkala perang itu diwajibkan kepada mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja diantara mereka. Dan Allah mengetahui siapa orang-orang yang zalim. " (al Baqarah: 246)

"Kamu Sekali-kali Tidak Akan Mendapatkan Penggantian dalam Sunnah Allah"

Berdasarkan cerita yang terkandung dalam Al-Qur'an, kita pahami bahwa sesuatu yang hampir serupa menyebabkan runtuhnya peradaban di masa silam, yaitu penentangan terhadap para rasul mereka. Kondisi di mana umat manusia menjalani kehidupannya, pengiriman para rasul untuk mem berikan peringatan kepada mereka, dan kebinasaan mereka semua ada lah memiliki pola yang sama.
Masyarakat modern juga mengalami kerusakan dan kemerosotan yang pesat. Kemiskinan, keseng saraan, dan ketidakteraturan menjerumuskan kehidupan umat manusia ke dalam kekacauan ya ng komplet dan menyebabkan mereka mengharapkan suatu kehidupan yang damAldi mana kebaika n menjadi pemena ngnya. Tampaknya, keadi l an dapat mcnang hanya jika nilai-nilai Al-Qur’an menjadi sesuatu yang utama di antara umat manusia. Hanya mereka yang rnempunyAlnilai- nilai yang nyata yang dapat memberikan solusi bagi seluruh permasalahan yang dialam umat manusia dewasa ini. Allah telah mengutus seluruh nabi dan rasul-Nya kepada generasi-generasi terdahulu yang telah mengalami tekanan sosial yang sama, dan Dia terkadang memberikan kekayaan dan kemegahan yang menga gumkan kepada mereka yang mengikuti para rasul-Nya. Fakta ini sesu ai dengan ayat,
“jikalau sekiranya penduduk penduduk negeri negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah darilangit dan bumi, tetapi mereka menclustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya itu. " (al-A'raaf: 96)
Ayat ini , seperti halnya ayat-ayat serupa lainnya, menyatakan bahwa satu-satunya cara ya ng menda tangkan kebahagi aan dan kedamaian adalah dengan mengikuti I sl am. Pri nsip ini akan terus berlaku ter hadap generasi-generasi yang akan datang sebagai ma n a telah berlaku pada generasi sebelumnya. Di tempat-tempat yang tidak memi l iki nilai-ni l ai Islam, ketidakadi l an, ketidakamanan, dan ketidakstabi l an akan menang. l ni merupakan sunnah Allah. Tidak adanya perubahan dalam sunnah Allah dinya takan dalam Al-Qur'an,
“... Tatkala datang kepada mereka pemberi peringaran, maka kedatangannya itu tidak menam bah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahar. Rencana yang jahar itu tidak akan menimpa setain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terda hulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah Allah, dan sekalikali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. ” (Faathir: 42-43)

Kelaziman Islam Menurut Al-Qur'an

Sebagaimana disebutkan dalam bahasan sebelumnya bahwa Allah mengirimkan para nabi dan rasul kepada umat manusia untuk membebaskan mereka dari kekafiran dan ketidakadilan merupakan sesuatu yang diinformasikan dalam Al-Qur’an kepada kita. Nabi atau rasul ini membimbing umatnya untuk mengimani Allah tanpa menyekutukan-Nya dan agar merasa takut ke pada-Nya. Apabila umatnya tetap menotak, dia mengingatkan mereka akan azab Allah. Allah berfirman bahwa Dia tidak akan mem binasakan suatu kaum sebelum peringatan ini disampaikan,
“Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim. ” (asy-Syu'araa': 208-209)
Pada masa sekarang ini, kita amati bahwa keme rosotan, baik fisik maupun spiritual, yang terjadi di masyarakat secara menyeluruh dibareng dengan ketidakstabilan ekonom dan politik. Kesenjangan yang besar terjadi antara si miskin dan si kaya, dan kerusakan sosial semakin meningkat. Al-Qur’an mengingatkan manusia bahwa setelah dan bahkan selama periode gelap seperti itu, Allah senantiasa menunjukkan jalan menuju kesela matan bagi mereka yang benar-benar mengharapkan-Nya. Dengan cara ini, Islam pasti akan berjaya di seluruh dunia dan agama yang benar akan mengal ahkan semua agama kafir. Kepada para umatnya yang beriman (al-Mu'minuun), Allah memberikan kabar gembira dalam surah at-Taubah,
"... dan Allah tidak menghendaki selain me nyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang orang yang kafir tidal< menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. " (at-Taubah: 32-33)
Dalam surah an-Nuur, Allah memberitahukan kepada umat-Nya yang beriman yang melakukan amal-amal saleh tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan benar-benar mencari keridhaan-Nya, bahwa mereka akan mendapatkan kekuasaan sebagaimana umat-umat beriman ter dahulu. Firman-Nya,
" Dan, Aflah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa; dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada da lam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak memperse kutukan sesuatu pun dengan-Ku. Dan, barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. " (an Nuur: 55)
Satu hal pantas mendapatkan sebutan di sini. Pada ayat di atas, syarat untuk penyebaran Islam diberikan: keberadaan umat yang beriman yang benar-benar mumi sebagai hamba Allah tanpa mem persekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan yang melakukan amal-amal saleh di jalan Allah...

Penolong yang Dinantikan

Apa yang telah dibahas sejauh ani adalah sebagai berikut. Pada setiap masa, Allah selalu menjawab seruan hamba-hamba-Nya yang dengan penuh harap membutuhkan pertolongan-Nya. Hal ini juga terjadi di zaman sekarang dan di masa yang akan datang. Sebagaimana yang pernah telah terjadi di masa lalu, di masa sekarang ini pun diharapkan bahwa Allah akan menyelamatkan umat manusia dari ketidakadilan sistem kaum kafir dan menghadirkan keindahan Islam kepada mereka.
Kini, dunia Islam diharapkan akan menemukan sebuah jalan keluar bagi kerusakan yang terjadi sekarang ini dan hamba-hamba beriman yang ikhlas akan menyampaikan nilai-nilai Islam tersebut ke seluruh dunia. Pastilah, sebagaimana yang terjadi di setiap zaman, umat manusia sekarang ini meng harapkan seorang penolong akan segera tiba. Penolong ini, yang akan membawa umat manusia dari “kegelapan menuju cahayaterang benderang”, adalah agama Islam. Uma t manusia yang men dapatkan bimbi ngan da lam menapaki kehidupan dengan nilai-nilai yang dibawa oleh sang penolong ini akan mengalahkan semua sistem yang menotak Allah dan mereka akan menjadikan ideologi ideologi yang rusak menjadi tidak berlaku.
Singkat kata, Allah akan menolong setiap umat manusia sebagaimana yang telah dilakukan-Nya kepada umat-umat terdahulu. Allah menjanjika n hal ini kepada hamba-hamba-Nya yang dengan ikhlas taat kepada-Nya dan mempunyai rasa takut yang mendalam kepada-Nya.
"(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kam pung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, 'Tuhan kami hanyalah Allah. 'Dan sekiranya Allah tiada me notak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan keduduk an mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. " (al-Hajj: 40-41)

Yesus (Isa a.s.) Putra Maryam, dalam Al-Qur’an

Yesus (Isa a.s.) Putra Maryam, dalam Al-Qur’an

Dalem bab ini, kami akan membahas secara mendetail tentang kedatangan Yesus (Isa a.s.) yang kedua yang ada dalam sumber-sumber yang layak dipercaya. Sumber pertama dan yang utama adalah Al-Qur'an, kalam Allah yang tidak dapat ditiru, seba gaimana yang diungkapkan, dalam Al-Qur’an,
"... Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya... " (al-An'aam: 115)
Sumber yang kedua adalah Sunnah Rasulullah terakhir, Muhammad saw.. Semoga Allah mencurah kan rahmat kepadanya dan menganugerah inya kedamaian. Al-Qur’an menyediakan informasi yang mendetail tentang tahap-tahap kehidupan Yesus (Isa a.s.), termasuk kelahirannya, proses pengangkatan-nya ke haribaan Allah, kedatangannya yang kali kedua, dan kematiannya.
Yesus (Isa a.s.), yang hidup 2.000 tahun yang lalu, adalah sorang rasul yang diberkati Allah. Dia mempunyai kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat, sebaga imana yang dikabarkan oleh Al-Qur'an. Agama yang benar yang dibawanya masih tetap ada sampai sekarang, meskipun hanya sebatas nama. Hal ini disebabkan ajaran orisinal yang di sampaikan oleh Yesus (Isa a.s.) telah dirusak sekarang ini. Kitab yang Allah turunkan kepada Isa a.s. juga hanya tinggal nama di masa sekarang ini. Kini, teks orisinal kitab ini tidak ada lagi. Sumber-sumber yang dimiliki umat Nasrani telah mengalami berbagai perubahan dan distorsi. Konsekuensinya, kita tidak mungkin mendapatkan pengetahuan yang benar tentang Isa a.s. dari sumber-sumber yang dimiliki umal Nasrani pada masa sekarang ini.
Hanya ada dua sumber yang dapal memberikan pengetahuan yang akurat tentang Yesus (Isa a.s.) , yaitu Al-Qur'an, Kitab Allah yang Dia jamin tid ak akan berubah hingga hari kiamat kelak, dan Sunnah Rasulullah saw. . Dalam Al-Qur'an, Allah mem berikan catatan tentang kelahiran dan kehidupan Isa a.s., beberapa insid en yang qialaminya selama hidup, orang-orang di sekel ilingnya, dan banyak bahasan lain yang berhubungan dengannya. Selainitu, ayat-ayat Al-Qur’an juga mengabarkan kepada kita tentang kehidupan Maryam sebelum ia melahir kan Isa a.s., bagAlmana ia mengandung dengan cara yang menakjubkan, dan reaksi orang-orang yang ada di sekel ilingnya terhadap kejadian yang menimpa nya. Allah juga memberikan kabar bahagia ba hwa Yesus (Isa a.s.) aka n datang ke bum i selama beberapa saat di akhir zaman nanti. Dalam bab ini, Anda akan menemukan beberapa informasi yang diberikan oleh Al-Qur’an tentang Yesus (Isa a.s.) .

Kelahiran Maryam dan Bagaimana Ia Berkembang

Maryam, yang tela h ter pilih untu k melahirkan Yesus (Isa a.s.) , terla h ir pada saat terjadinya keka cauan, yaitu ketika Bani I srael mengharapkan seka l i kedatangan Sang Messi ah. Tanpa menyadari dirinya menjadi pusat pengharapan, Maryam seca ra khusus telah dipilih Allah untuk menerima tugas yang mahamulia ini dan seka ligus menjalaninya. Maryam berasal dari sebuah keluarga yang mul ia, keluarga lmran. Allah telah melebi hkan kel uarga ini di alas sel uruh umat manusia.
Seluruh anggota keluarga l mran terkenal mem punyai keimanan yang tinggi kepada Allah. Mereka berpaling kepada Allah dalam melakukan segala bentuk kebajikan dan dengan sangat cermat mematuhi semua perintah-Nya. Pada saat istri lmran mengetahui bahwa dirinya sedans mengandung, ia segera berpaling kepada Sang Penciptanya dan ber do'a, dania mempersembahkan apa yang ada dalam rahimnya untuk menjadi "pelayan Allah". Allah memberikan sebuah catatan dalam Al-Qur'an,
"(lngatlah) ketika istri lmran berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Bairul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ' Maka tatkala istri lmran melahirkan anaknya, dia pun berkara, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharlan Engkau dari setan yang rerkuruk. "' (Ali lmran: 35-36)
Ketika Maryam lahir , istri lmran tetap hanya mencari keridhaan Allah. Ia berpaling kepada Allah dan mendo'akan Maryam serta keturunannya di bawah perlindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dikarenakan keikhlasan dan do'anya, Allah menganugerahkan pada Maryam sifat-sifat yang mu l ia. Dalam Al-Qur'an, Al lah menerangkan bagaimana Maryam tumbuh dan berkembang dalam perlindungan dan perawatan-Nya yang amat cermat,
"Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik... " (Al i lmran: 37)
Zakari ya menjadi pelindung Maryam. Selama Maryam berada bersamanya, ia menyadari bahwa Maryam telah dianugerahi sifat-sifat yang luar biasa. Terlebih Allah memberikannya banyak kcnikmatan "tanpa perh itungan",
"... Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, 'Hai Maryam, dari mana engkau memperoleh (makanan ) ini?' Maryam menjaiwab, 'Makanan itu dari sisi Allah'. Sesung guhnya, Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab". (Ali lmran: 37)
Sebagaimana Allah telah memilih keluarga lmran, Dia juga memilih Maryam, seorang anggota keluarga lmran, dan memberikannya karunia yang luar biasa. Allah menyucikan Maryam dan tel ah melebihkannya dari seluruh wanita pada masanya. Sifat-sifat yang dimilikinya tertulis dalam Al-Qur'an,
"Dan (ingatlah) ketika malaikal (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah me milih kamu, menyudkan kamu dan melebihkan kamu alas segala wanita di dunia (yang ada di masa kamu). Hai Maryam, taallah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama-orang orang yang ruku'. " (Ali l mran: 42-43)
Dalam masyarakat di mana ia tinggal, Maryam telah menjadi seorang yang terkenal mempunyai loyalitas dan keikhlasan terhadap Allah. Khususnya, ia dikenal sebagai seorang wanita "yang menjaga kehormatannya". Dalam surah at-Tahriim, kita dapat menemukan sebuah catatan,
"Dan (ingallah) Maryam pulri lmran yang memelihara kehormalannya, maka Kami liupkan ke dalam rahimnya sebagian dari (roh) ciptaan Kami; dan Dia membenarkan kalimal Tuhannya dan kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. " (at-Tahriim: 12)

Kehamilan Maryam

"Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur·an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindungi nya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Mar yam berkata, 'Sesungguhnya, aku berlindung darimu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa. ' Ia (Jibril) berkata, 'Sesungguhnya, aku inihanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki­laki yang suci. "' (Maryam: 16-19)
Sebagaimana yang diberitahukan dalam ayat di atas, setelah selesai satu tahap pelatihannya, Maryam menarik diri dari masyarakatnya ke wilayah bagian timur dan menghabiskan beberapa waktu hidupnya di sana. Tidak berapa lama waktu berselang, malaikat jibril menampakkan diri pada Maryam atas perintah Allah. Maryam, yang merupakan seorang wanita yang mulia dan menjaga kehormatan, benar-benar merasa terganggu melihat seorang yang asing. Malaikat Jibril menerangkan bahwa dia adalah seorang malaikat yang diutus Allah untuk memberikan kabar bahagia tentang seorang anak laki-laki,
"(lngatlah) ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). '" (Ali l mran: 45)
Mendengar kabar ini, Maryam mengajukan pertanyaan tentang bagaimana mungkin ia dapat mempunyai seorang putra, padahal tidak seorang laki-laki pun yang pernah menyentuhnya,
"Maryam berkata, 'Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula ) seorang pezina!' Jibril berkata, 'Demikianlah. ' Tuhanmu berfirman, 'Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. ' Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh". (Maryam: 20-22)
“Maryam berkata, 'Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh olen seorang laki-laki pun. 'Allah berfirman (dengan perantaraan jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah, ' lalu jadilah dia. "' (Ali lmran: 47)
Selama Maryam tinggal di “tempat yang jauh" yang disebutkan dalam ayat di atas, Allah mendu kungnya, baik secara fisik maupun materi. Ia benar benar berada dalam lindurngan dan perawatan-Nya selama masa mengandungnya. Semua kebutuhan nya secara khusus dipenuhi oleh Allah. Sementara itu, dengan menempatkannya di suatu tempat yang tersembunyi, Allah telah mencegah semua kejahatan orang-orang yang sama sekali tidak memahami situasi ini yang mungkin akan menculiknya.

Yesus (Isa a.s.) Adalah Kalimat Allah

Dalam Al-Qur'an, Allah mengarahkan perha·tian kita terhadap fakta bahwa dari sejak kel ahiran hingga kematiannya, Isa a.s. memang sangat ber beda dengan seluruh manusia pada umumnya di muka bumi. Al-Qur’an menegaskan bahwa kelahirannya dari seorang gad is, satu bentuk penciptaan yang kita t idak terbiasa dengan haltersebut. Sebelum kelahirannya, Allah rpemberitahu ibunya tentang sifat-sifat yang dimiliki Isa a.s. termasuk bahwa dia diutus sebagai seorang penyelamat (Messiah ) kepada Bani Israel. Dia juga dijuluki "Kal imat Allah",
"... Sesungguhnya, Al--Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan ) roh dari Nya ... " (an -Nisaa': 171)
"(lngatlah ) ketih Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan ) dengan kalimat (yang datang) dari Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan eli akhirat dan salah seora11g eli antara orang-orang yang elide· katkan (kepacla Allah ). " (Ali lmran: 45)
Allah telah memberikannya nama sebelum kela h irannya, sebaga imana !Dia perbuat kepada Yahya a.s.. Biasanya, anggota keluarga yang memberikan nama kepada anak-anaknya, namun tidak demikian pada kasus Isa a.s.. Allah-lah yang memberikannya nama Al-Masih, Isa, putra Maryam. lni merupakan satu indikasi eksplisit bahwa Isa a.s. diciptakan secara berbeda dari seluruh manusia lainnya.
Tentulah, seperti kelahirannya, keajaiban yang dialami selama hidupnya, dan cara dia diangkat ke haribaan Allah merupakan tanda-tanda perbedaannya dari manusia lain pada umumnya. '

Kelahiran Isa a.s.

Sebagaimana yang d ikenal luas, kel ahiran merupakan suatu proses yang menunlut banyak perawalan. Melahirkan seorang bayi tanpa keha diran seseorang yang berpengalaman dan perawalan medis adalah sesuatu yang sulit. Meskipun demikian, Maryam, yang melakukan semuanya sendirian, telah berhasil melahirkan seorang bayi. Sebuah ungkapan terima kasih atas kesetiannya kepada Allah dan atas keyakinannya kepada-Nya.
Kelika mengalami rasa sakit yang luar biasa, Allah memberikannya ilham dan instruksi pada setiap tahapnya. Dalam hal ini, ia telah melahirkan anaknya tanpa kesukaran dan pada lingkungan yang terbaik. lni merupakan nikmat yang diberikan kepada Maryam,
“Maka rasa sakit akan melahirk, m anak memak· sa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata, 'Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berani, lagi dilupakan. 'Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, 'Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah men jadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum, dan bersenanghatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, 'Sesungguhnya, aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini. ' “ (Maryam: 23-26)

Isa a.s. Berbicara Ketika Masih dalam Buaian

“Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh )nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. " (al-Anbiyaa': 91)
Satu dari peristiwa yang Allah u jikan kepada kaumnya Maryam adala h kela h iran Isa a.s.. Kelahiran ini, yang merupakan peristiwa aneh bagi umat manusia, adalah suatu ujian baik bagi Maryam maupun bagi kaumnya. Pada kenyataannya, cara Isa a.s. dilahirkan merupakan suatu keajaiban yang Allah lakukan untuk menyeru umat manusia kepada keimanan yang benar dan satu dari banyak bukti eksplisit dari eksistensi Allah. Akan tetapi, manusia masih saja gaga! untuk menangkapnya dan masih menaruh rasa curiga,
"Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkala, 'Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan suatu perbuatan yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah orang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina. "' (Maryam: 27-28)
Sebagaimana diterangkan dalam ayat-ayat di atas, saat kembalinya Maryam kepada kaumnya dari tempat yang jauh bersama Isa a.s., kaumnya tidak memperkenankannya untuk memberikan suatu keterangan. Mereka berasumsi bahwa Maryam telah melakukan suatu perbuatan tidak senonoh dan mengejutkan serta memfitnahnya dengan cara yang keji. Meskipun demikian, mereka yang menyebarkan fitnah-fitnah tentang Maryam ini telah mengetahui keadaan Maryam dari sejak ia dilahirkan dan menyadari kesu” cian serta ketakwaannya, seperti anggota-anggota keluarga lmran lainnya.
Pastilah, semua cercaan dan fitnahan ini merupakan suatu ujian bagi Maryam. lni membuktikan bahwa seorang manusia, yang begitu suci dan sa leh, tidak akan melakukan perbuatan keji seperti itu. lni hanyalah sebuah ujian bagi Maryam. Dari sejak Maryam dilahirkan, Allah selalu menolongnya dan memalingkan semua yang dilakukannya kepada kebaikan. Maryam, pada waktu kembali, menyadari bahwa setiap peristiwa yang terjadi merupakan kehendak Allah dan hanya Allah yang dapat mem buktikan ketidakbenaran dari fitnah-fitnah ini.
Tentu Allah memberikan ketenangan pada diri Maryam dan memberikannya ilham untuk tetap di am. Allah memeri ntahkannya untuk tidak ber bicara dengan kaumnya, tetapi agar menunjuk Isa a.s. jika mereka mendekatinya dan berusaha u ntuk menuduhnya. Dengan cara ini, Maryam telah meng hindari berbagai rintangan seperti suatu diskusi yang mungkin terjadi. Orang yang akan memberikan jawaban yang akurat kepada mereka adalah Isa a.s.. Ketika Allah memberi kan kabar gembira akan kelahiran Isa a.s. kepada Maryam, Dia juga memberi tahukannya bahwa dia akan berbicara dengan jelas ketika masih di dalam buaian,
"Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah salah seorang di antara orang-orang yang saleh. " (Ali lmran: 46)
Selanjutnya, Allah menjadikan semuanya lebih mudah bagi Maryam dan memberikan keterangan yang benar kepada kaumnya Maryam melalui kata kata Isa a.s..
Dengan keajaiban ini, upaya orang-orang kafir yang ada di sekeliling Maryam secara otomatis mengalami kegagalan.
"Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, 'Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih berada dalam ayunan?' Berkata Isa, 'Sesungguhnya, aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (lnjil ) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkali di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan ) shalat dan (menunaikan ) zakat selama aku hidt p; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. '" (Maryam: 29-33)
Tidak diragukan, seorang bayi yang berbicara dengan sangat fasih ketika masih dalam buaian merupakan suatu keajaiban. Kaum Maryam merasa heran mendengar kata-kata hikmah dari seorang bayi yang masih berada dalam buaian dan kejadian ini membuktikan kepada mereka bahwa kela hirannya merupakan suatu keajaiban. Semua peris tiwa yang mencengangkan ini menunjukkan bahwa bayi yang masih berada da lam buaian tersebut adalah seorang utusan Allah.
lni merupakan balasan yang Allah berikan kepada Maryam alas kepercayaan yang ia berikan kepada-Nya. Dengan menunjukkan keajaiban yang mengejutkan seperti itu, ia memberikan respons terhadap orang-orang yang. memlitnahnya. Walaupun demikian, Allah memberitahukan kepada kita bahwa azab yang pedih menanti mereka yang tidak mau menghilangkan pikiran buruk tentang Maryam dibandingkan mempercayai keajaiban ini,
"Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina). " (an-Nisaa':156)

Mukjizat-Mukjizat Isa a.s.

Atas i zin Allah , Isa a.s. mempunyai banyak mukjizat lainnya selain dilahirkan dari seorang gadis dan pemberitahuannya tentang kenabiannya ketika masi h bayi dalam buaian. Pada kenyataannya, kedua keajaiban ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa Isa a.s. adalah seorang yang di luar kebiasaan manusra umumnya. Singkalnya, hanya suatu keajarbanlah yang dapal membual seseorang bayi yang baru dolahirkan berbicara dengan begilu rasional dengiln penuh keimanan,
“(lngatlah), ketika Allah mengatakan, 'Hai Isa putm Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kilmu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia dt waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah ) ketika Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat, dan lnjil ... (al-Maa'idah: 110)
Dalam Al-Qur'an, mukjizal-mukjizal Isa a.s. digambarkan sebagai berikut.
“Dan (sebagai) rasul kepada Bani Israel (yang berkata kepada mereka ), 'Sesungguhnya, aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizal) dari Tuhan-mu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah sebagai bentuk burung; kemudiam aku meniupnya, maka dia, menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dam aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya, pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebe naran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh sungguh beriman. '" (Ali lmran: 49 )
Meskipun semua peristiwa yang di luar kebiasaan tersebut telah terjadi, beberapa orang secara arogan telah menotak mukjizat-mukjizat Isa a.s. tersebut d an mengatakan bahwa semua itu adalah sihir belaka.

Isa a.s. Menyampaikan Ajaran dan Beberapa Kesulitan yang Dia Hadapi

Pada waktu Isa a.s. diutus, Bani Israel berada dalam kesulitan puncak, baik masalah politik mau pun ekonomi. Di satu sisi, ada beberapa tindakan kejam yang mengakibatkan kesedihan pada masya rakat, dan di sisi lain, terdapat ketidaksepakatan keyakinan dan sekte yang mengakibatkan kehidupan menjadi sulit. Di bawah kondi si yang sedemikian itu, umat manusia benar-benar membutuhkan satu jalan keluar.
Sang Juru Selamat yang dinantikan umat setelah waktu yang lama adalah Isa a.s.. Alas kehendak Allah, Isa a.s. dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian dan kemud ian memberitahukan kepada umat manusia bahwa Al-Masih (Sang juru Selamat) yang mereka nantikan telah tiba. Yang terjadi kemudian, banyak yang menaruh harapan kepadanya untuk mendapatkan petunjuk darinya.
Walaupun demikian, ada juga beberapa orang yang tidak menerima Isa a.s.. Para pendukung kekafiran pada saat itu, khususnya, menganggapnya benar-benar sebagai suatu ancaman bagi keber adaan mereka. Karenanya, mereka membuat rencana-rencana untuk membunuhnya dengan segera ketika mereka mendengar kabar tentangnya. Dikarenakan kecemasan hati mereka, rencana rencana mereka sebenarnya telah berakhir dengan kegagalan sejak awal. Akan tetapi, tetap saja halter sebuttidak mampu menghentikan rasa permusuhan mereka kepada Isa a.s. dalam menjalankan misinya.
Meskipun demikian, mereka yang melakukan reaksi terhadapnya tidak terbatas pada kaum kafir saja. Selama periode tersebut, disebabkan beragam alasan, mayoritas para rabi Yahudi melaku an lawanan terhadap Isa a.s. dengan anggapan bahwa dia mebkukan penghapusan terhadap agama me reka. Tentu saja, dengan tindakan mereka tersebut, mereka telah menjadi bagian dari kaum kafir karena sikap oposisi mereka kepada seorang utusan Allah. Apa yang telah dilakukan oleh Isa a.s., sebenarnya, hanyalah menyeru umat manusia kepada agama yang orisinal dan menghapus aturan-aturan yang salah yang diperkenalkan kepada kaum Yahudi oleh para rabi itu sendiri. Bani Israel mendi storsi agama mereka dengan melarang apa yang diperbolehkan oleh ajaran yang asli dan memperbolehkan apa yang dilarang olehnya. Dengan cara ini, mereka meng ubah agama yang benar yang diturunkan Allah secara keseluruhan. Dikarenakan alasan ini, Allah mengutus la benar dari semua bid'ah yang dilakukan terhadapnya pada tahap selanjutnya. Isa a.s. menyeru kaum nya kepada lnjil, yang mengandung ajaran Taurat yang diturunkan kepada Musa a.s.. Ayat Al-Qur’an yang menjel askan hal ini,
"Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan unlukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taallah kepadaku. " (Ali l mran: 50)
Dalam ayat yang l ain, Alla h memberitahukan kepada kita bahwa lnjil yang diturunkan kepada Isa a.s. merupakan satu tuntunan kepada jalan yang benar bagi mereka yang mempercayainya dan untuk menolong mereka mernbed akan antara yang benar dan yang batil. Ia juga merupakan sebuah kitab yang mengandung ajaran Taurat.
"Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membe narkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan kami telah memberikan kepadanya Kitab lnjil sedang di dalamnya (ada ) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang orang yang bertakwa". (al-Maa'idah: 46)
Para pemuka Bani Israel memberikan perhatian yang lebih besar kepada aturan-aturan yang telah menjadi tradisi dan meragukan apa yang dibawa oleh Isa a.s.. Hal ini karena Isa a.s. tidak memberikan penekanan pada aturan-aturan tradisional, tetapi lebih menyeru manusia kepada ketaatan kepada Allah, penotakan terhadap dunia, keikhlasan, persaudaraan, dan kejujuran. Menghadapi suatu perbedaan pemahaman agama tersebut , kaum Yahudi merasa frustasi terhadap yang disampaikan oleh Isa a.s.. Dalam Al-Qur'an, Al lah memberikan catatan bagaimana Isa a.s. menyampaikan perintah perintah Allah SWT.,
"Dan tatkala Isa memba-wa keterangan dia berkata, 'Sesungguhnya, aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk men jelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku. ' Sesung guhnya, Allah Dia-lah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapal) di antara mereka; lalu kecela kaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamal). " (az Zukh ruf: 63-65)
Keikhlasan dan sikap yang berbeda yang dimiliki oleh Isa a.s. telah menarik perhatian manusia. Jumlah para pengikutnya semakin bertambah.

Kaum Yahudi Menganggap bahwa Mereka Telah Membunuh Isa a.s.

Tidak diragukan, setiap orang terbiasa dengan dugaan bahwa bangsa Romawi telah menyalib Isa a.s.. Sebagaimana dugaa·n tersebut, bangsa Romawi dan Yahudi telah menangkap Isa a.s. dan menya libnya. Memang, seluruh umat Nasrani di dunia memiliki keyakinan bahwa Isa a.s. telah meninggal , tetapi kemudian akan kembali lagi dan naik ke surga. Akan tetapi, bila kita merujuk ke·mbali kepada Al-Qur'an, kita mengetahui bahwa apa yang sebenarnya terjadi tidaklah seperti yang mereka yakini,
“Dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya, kami telah membunuh Al-Masih, !sa putra Maryam, Rasul Allah, ” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesung guhnya, orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar·benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persang kaan belaka, mereka tidak (pula ) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkatIsa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lasi Mahabijaksana". (an-Nisaa': 157-158)
Fakta yang disampaikan dalam Al-Qur'an kepada kita adalah jelas. Usaha-usaha bangsa Romawi, yang diprovokasi oleh bangsa Yahudi untuk membunuh Isa a.s., terbukti tidak berhasil. Kutipan yang dinyatakan dalam ayat di atas,
"... tetapi (yang mereka bunuh) ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka... "
menerangkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Isa a.s. tidaklah dibunuh, tetapi diangkat oleh Allah ke haribaan-Nya. Selainitu, Allah menghela perhatian kita kepada fakta bahwa mereka yang membuat pernyataan yang bertentangan dengan ayat di atas tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang kebenaran. Di dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman bahwa Dia-lah yang akan menarik Isa a.s. kembali dan Dia akan mengangkatnya kepada-Nya.
" (lngatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkill kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang orang yang mengikuti kamu di alas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memuruskan di antaramu lentang hal-hal yang kamu selalu berselisih padanya. "' (Ali lmran: 55)
Kita akan menganalisis arti aktual dari kata "menarik kembali" pada bab berikutnya. Serpihan bukti-bukti lainnya yang ada dalam Al-Qur an tentang bahasan ini adalah ungkapan umum yang digunakan bagi kematian nabi-nabi lainnya. Ung· kapan-ungkapan yang digunakan untuk kematian atau pembunuhan P, ara n abi dalam Al--Quran adalah sangat jelas. Misalnya dalam surah an-Nisaa’ ayat 155 terdapat satu contoh eksplisit. Ayat tersebut adalah,
"Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka ter hadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup. ' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. Karena itu, mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka. "
Ungkapan yang digunakan untuk Isa a.s. dalam Al-Qur’an sangat jelas,
"... padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka ..."
Pernyataan ini menekank. an bahwa Isa a.s. tidak dibunuh, apa pun metode yang digunakan untuk melakukan tujuan tersebut.

Kembalinya Yesus (Isa a.s.) ke Bumi

Kembalinya Yesus (Isa a.s.) ke Bumi

Yesus (Isa a.s.) Tidak Meninggal

Satu kajian ayat-ayat tentang Isa a.s. dalam Al-Qur'an menunjukkan bahwa Isa a.s. tidaklah me ninggal ataupun dibun, uh, tetapi dia Iel ah diangkat ke haribaan Allah.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, dalam surah an-Nisaa', bahwa Isa a.s. tidak dibunuh, letapi diangkat ke haribaan Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh ayat,
"Dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya, kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, " padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesung guhnya, orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam ker, lgu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai kcyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti prasangka bclaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang merekabunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasalagi Mahabijaksana. ” (an-Nisaa: 157-158)
Dalam beberapa terjemahan bahasa lnggris, kita mengetahui bahwa beberapa ayat lain yang diterjemahkan memberikan kesan bahwa Isa a.s. wafat sebelum dia diangkat ke haribaan Allah. Ayat-ayat ini adalah sebagai berikut.
“(lngatlah) ketika Allah berflrman, 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku ... ” (Ali lmran: 55)
Pada surah al-Maa'idah ayat 117, peristiwa tersebut diceritakan dengan perkataan Isa a.s. yang juga diterjemahkan seperti itu , seolah-olah menyiratkan arti yang sama bahwa dia telah wafat,
“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu, 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, ' dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku. Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. " (al-Maa'idah: 117)
Meskipun demikian, makna bahasa Arab dari ayat-ayat di alas menunjukkan bahwa Nabi Isa a.s. tidak meninggal dalam arli yang kita pahami. Dalam bahasa Arab, kata yang diterjemahkan dalam ayat ayal tersebut menjadi “meninggal" (to die) ada lah kala tawaffa dan berasal dari kata wafa 'memenuhil mengabulkan'. Tawaffa tidak berarli "kematian", lela pi merupakan aksi "penarikan jiwa kernbali", baik dalam keadaan tidur maupun meninggal. Juga dari Al-Qur'an, kita memahami bahwa "penarikan jiwa kembali" tidak serta merta bermakna kemalian. Misalnya, dalam salu ayat di mana kata tawaffa digunakan, makna yang dimaksud bukanlah kematian seorang manusia tetapi “penarikan jiwa dari tidurnya",
"Dan Dialah yang menidurkan kamu (yatawaffakum) di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, untuk disemournakaa umurfmul vang telah ditentukan. kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. " (al-An'aam: 60)
Kata yang digunakan untuk "menarik kembali" dalam ayat ini adalah sama dengan kata yang digu nakan dalam surah Ali lmran ayat 55. Dengan kata lain, dalam kedua ayat tersebut, kata tawaffa digu nakan dan maknanya jelas bahwa seseorang tidak mati da lam kondisi tidurnya. Karena itu, apa yang dimaksudkan di sini adalah "menarik jiwa kembali".
Makna yang sama juga berlaku pada ayat, "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orangl vang belum mati di waktu tiduraya: maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa vang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya, yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. " (az-Zumar: 42)
Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat ini, Allah menarik jiwa orang yang sedang tertidur, namun Dia mengirim kembali jiwa-jiwa tersebut kepada mereka yang waktu kematiannya belum ditentu kan. Dalam konteks ini, dalam tidurnya, seseorang tidaklah wafat, da lam arti kematian. Hanya untuk periode yang temporal, jiwa meninggalkan tubuh dan tetap pada d imensi yang lain. Ketika kita terbangun, jiwa pun kembal i ke da lam tubuh. '
Imam ai-Qurtubi menjelaskan bahwa ada tiga ma kna dalam istilah wafat: wafat kematian, wafat tidur, dan terakhir wafat diangkat kepada Allah, sebagaimana yang terjadi pada nabi Isa a.s..
Kesimpulannya, kila dapat mengatakan bahwa Isa a.s. kemungkinan berada pada suatu tempat yang khusus, diangkat ke h aribaan Allah. Apa yang sebenarnya dia a l ami bu kan l ah kematian dalam arti yang biasa kita pahami, melainkan benar-benar merupakan suatu keberangkatan dari dimensi ini. Wallahu A' lam.

Isa a.s. Akan Kembali ke Bumi

Dari apa yang sejauh ini telah diterangkan, jelas bahwa Isa a.s. tidaklah meninggal, tetapi telah diangkat ke haribaan Allah. Meskipun demikian, ada satu poin lagi yang digarisbawahi oleh Al-Qur'an: Isa a.s. akan kembali ke bumi.
1. Surah Al-i lmran ayat 55 adalah satu dari ayat­ayat yang mengindikasikan bahwa Isa a.s. akan kembali,
"(lngatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan meniadjkan orang orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir himgga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memu tuskan di antaramu tentang hal-hal yang kamu selalu berselisih padanya. ’ ” (Ali lmran: 55)
Pernyataan dalam ayat“... dan menjadikan orang-orang yang mengikuli kamu di atas orang-orang yang kafir hingga had kiaroat ...“adalah penting. lni merujuk kepada sekelompok orang yang secara teguh mengikuti Isa a.s. dan yang akan berada di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat. Sekarahg, siapakah orang-orang yang taat ini? Apakah mereka para murid (pengikut) Isa a.s. ataukah mereka adalah umat Nasrani yang ada pada saat ini?
Selama hidupnya, jumlah para pengikut Isa a.s. sangatlah sedikit. Setelah beliau tiada, esensi ajaran agamanya merosot secara drastis. Selainitu, orang-orang yang dikenal sebagai para murid Isa a.s. menghadapi tekanan yang sangat serius selama mereka hidup. Selama dua abad berlalu, tanpa memiliki kekuatan politik, umat Nasrani yang masih mempunyai keimanan kepada Isa a.s. juga tertindas. Dalam hal ini, tidaklah mungkin bila dikatakan bahwa umat Nasrani terdahulu atau para pengikutnya selama periode tersebut setara fisik meru pakan pe nguasa bagi orang-orang kafir di dunia. Kita secara logis mungkin berpikir bahwa ayat ini tidak dimaksudkan kepada mereka.
Sebaliknya, ketika kita memperhatikan umat Nasrani kini, kita melihat bahwa esensi ajaran Nasrani telan mengalami banyak peru bahan dan berbeda dengan ajaran Isa a.s. yang disampaikan kepada umat manusia pada saat itu. Umat Nasrani mengalami keyakinan yang menyimpang, yaitu bahwa Yesus (Isa a.s.) adalah anak Tuhan dan sama dengan diyakininya doktrin trinitas (Bapak, Anak, dan Roh Kudus). Dalam hal ini, tidaklah benar untuk meneri'ma umat Nasrani kini sebagai para pengikut Isa a.s. yang taat. Dalam berbagai ayat dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa mereka yang memiliki keyakinan kepada trinitas adalah termasuk orang-orarng kafir,
“Sesungguhnya, kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga, ' padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak untuk disembah) selain Tuhan Yang Esa ... " (al-Maa'idah: 73)
Dalam hal ini, komentar terhadap ayat, "... dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat... " adalah sebagai berikut.
Pertama, disebutka n bahwa mereka ini ada lah umat Islam yang benar-benar para pengiut sejati ajaran Isa a.s. yang ottentik.
Kedua, dikatakan bahwa mereka ini adalah umat Nasrani, baik mereka yang menyembah berhala maupun tidak, dan yang diketahui mem punyai posisi dominan secara jumlah di dunia dewasa ini.
Meskipun demikian, kelompok yang pertama dan kedua akan ·disatukan pada saat kedatangan Isa a.s. karena dia akan menghapuskan jizyah. Artinya, dia tidak akan menerima umat Nasrani dan Yahudi yang memeluk agama selain agama Islam, dan kemudian dia akan mempersatukan seluruh umat yang beriman sebagai umat Islam.
Nabi dan Rasul Allah terakhir, Muhammad saw., juga telah memberikan kabar gembira akan kembalinya Isa a.s.. Para ahli hadits (yang meriwayatkan sabda dan hadits Rasulullah saw. ) menatakan bahwa ada satu hadits yang membahas masalah ini, di mana Rasulullah saw mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. akan turun sebagai pemimpin di antara umat manusia sebelum han kiamat. Hadits ini sampai pada derajat mutawatir. Hal itu berarti hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak orang dari setiap generasi para sahabat yang tidak mungkin dirabukan lagi otentisitasnya.
Abu Hurairah r a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersebda,
“Demi Zat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, putra Maryam benar-benar akan segera turun ke tengah-tengah sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, akan membunuh babi, dan akan manghapuskan jizyah. Harta saat itu akan melimpah sehingga, tidak ada seorang pun yang akan menerimanya. Sehingga, sujud satu kali saja kala itu jauh lebih baik dari dunia dan isinya. " (HR Bukhari)
Jabir bin Abdullah berkata, “Saya mendengar Rasullllah bersahda, “Umatku tidak akan ber henti berperang untuk membela yang benar hingga datang hari kaimat. " Resulullah lalu bersahda, "Kemudian, turunlah Isa bin Maryam dan pemimpin mereka berkata, 'Ke sinilah dan pimpinlah kami dalam sembahyang, 'namun dia akan berkata, 'Tidak! Sebab sebagian kalian adalah pemimpin untuk sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah terhadap umat ini. " (HR Muslim)
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
"Tidak ada seorang nabi pun antara saya dan Isa. Sesungguhnya, dia akan turun ke bumi. Maka jika kalian melihatnya, kenalilah dia. Dia adalah seorang laki-laki dengan ukuran sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Dia memakai dua baju kuning terang. Kepalanya seakan-akan ada air yang mengalir walaupun sebenarnya ia tidak basah. Dia akan berperang melawan ma nusia untuk membela Islam. Dia akan menghan curkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah. Allah akan menghapuskan semua agama di zamannya kecuali Islam. Isa akan menghan curkan Dajjal dan dia akan hidup di bumi sela ma empat puluh tahun dan kemudian dia me ninggal. Kaum muslimin akan menyembahyangkan jenazahnya. " (HR Abu Dawud)
2. Di awal bab ini, kita telah menganalisis ayat 157-1 58 dari surah an-Nisaa'. Setelah kedua ayat tadi, Allah berfirman dalam surah an-Nisaa' ayat 159,
"Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kema tiannya. Dan di hari kiamat nanti, Isa itu akan menjadi saksi atas diri mereka. " (an-Nisaa': 159)
Pernyataan "kecuali akan beriman kepa danya (Isa) sebelum kematiannya" di atas adalah penting untuk kita jelaskan.
Beberapa orang ulama menyatakan bahwa kata nya dalam ayat ini digunakan pada Al-Qur'an dan kemudian menyebabkan interpretasi-interpretasi sebagai berikut.
Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab yang akan beriman kepada Al-Qur’an sebelum dia (seseorang dari Ah li Kitab) wafat.
Selainitu, dalam ayat 157 dan 158, dua ayat terdahulu, "nya" yang sama tanpa diragu kan lagi merujuk kepada Isa a.s..
Surah an-Nisaa' ayat 157, "Dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya, kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, 'padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya, orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang di bunuh itu, kecuali mengikuti prasangka belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. "
Surah an-Nisaa' ayat 158, "Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. "
Selain ayat-ayat yang terdapat dalam surah an-Nisaa' ini, tidak ada bukti lain yang menunjukkan bahwa "nya” yang dimaksudkan di sini adalah seseorang sel ain Isa a.s.. Surah an-Nisaa' ayat 159,
"Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadan ya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti, Isa itu akan menjadi saksi aras diri mereka. " (an-Nisaa·: 159)
Dalam Al-Qur'an, Allah memberitahukan kepada kita bahwa pada hari kiamat,
“Pada hari (ketika ) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. " (an-Nuur: 24 dan Yaasiin: 65)
Dari surah Fushshilat ayat 20-23, kita pahami bahwa pendengaran, penglihatan, dan kulit akan memberi kesaksian atas kita.
Tidak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa "Al-Qur’an sebagai saksi." Jika kita menerima bahwa "nya" atau "ia" dalam kalimat pertama merujuk pada Al-Qur’an-meskipun secara kaidah bahasa dan logika, kita tidak mempunyai bukti apa pun-seharusnya kita juga menerima bahwa "dia" dalam kalimal kedua Juga merujuk pada Al-Qur’an. Untuk bisa menerima ayat ini, seharusnya ada satu ayat yang secara ekspilisit meneguhkan pandangan ini. Akan tetapi, lbnu al-jauzi tidak menyebut kan adanya kemunskinan Al-Qur'an sebagai "nya" seperti yang dirujuk dalam ayat itu. lbnu al-jauzi telah mengemukakan pandangan para ahli 1afsr dalam karya-karyanya.
Ketika kita merujuk kepada Al-Qur'an, kita mengelahui bahwa saat kala ganli orang yang sama digunakan dalam Al-Qur'an, pada umum nya akan menyebutkan kala Al-Qur'an sebelum alau setelah ayal sebagaimana yang lerdapat pad a surah an-Naml ayat 77 dan surah asy-Syu’araa ayat 192-196. Ayat tersebut menyebutkan secara langsung bahwa Ahli Kitab akan beriman kepada Isa a.s. dan bahwa Isa a.s. akan menjadi saksi atas mereka.
Poin kedua adalah tentang interpretasi dari ungkapan sebelum dia wafat. Beberapa orang berpendapat bahwa yang dimaksudkan di sini adalah "beriman kepada Isa a.s. sebel um kema tian mereka sendiri". Menurut interpretasi ini, setiap orang dari Ahli Kitab pasti akan beriman sebelum dia menghadapi saa t kematiannya. Akan tetapi, di masa Nabi Isa a.s. kaum Yahudi yang dipastikan sebagai Ahli Kitab bukan hanya tidak beriman kepada Isa a.s., melainkan ber usaha untuk membunuhnya. Dengan kata lain, tidaklah masuk akal untuk mengatakan bahwa umat Yahudi dan Nasrani yang hidup dan wafat di masa Nabi Isa a.s. beriman kepad anya.
Kesimpulannya, ketika kita membuat suatu evaluasi mendalam tentang ayat tadi, kita akan sampai pada kesimpulan : sebelum kematian Isa a.s., semua Ahli Kitab akan beriman kepadanya.
Dalam makna sebenarnya, ayat tersebut mengungkapkan fakta yang jelas, yaitu sebagai berikut.
Pertama, terbukti bahwa ayat tersebut merujuk kepada masa yang akan datang karena ada penyebutan kematian Isa a.s.. Akan tetapi, Isa a.s. belumlah wafat, tetapi dia diangkat ke haribaan Allah. Isa a.s. akan datang kembali ke bumi, dia akan hidup sclama waktu yang telah ditentukan dan kemudian wafat. lni adalah perstiwa yang belum terjadi, tetapi pasti akan terjadi di masa yang akan datang.
Sebagai konsekuensi dari ungkapan sebelum dia waiat adalah suatu rujukan kepada Isa a.s. Para Ahli Kitab akan melihatnya, menge nalinya, dan menaatmya sclama dia hidup. Se mentara itu, Isa a.s. akan memberikan kesaksian atns mercka pada hari kiamal. Wallahu a'lam.
3. Akan kembalinya Isa a s. ke bumi pada akhir zaman diterangkan dalam ayat lain pada surah az-Zukhruf ayat 61.
Dimulai dari surah az-Zukhruf ayat 57, terdapat referensi tentang Isa a.s.,
"Maka tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaumnya (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, 'Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?' Mereka tidak memberikan perumpaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian ) dan Kami jadikan dia sebagai randa bukri (kekuasaan Allah) unwk Bani Israel. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar, Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikar malaikat yang turun-temuwn. "(az-Zu khruf: 57-60)
Setelah ayat-ayat ini, Allah menyatakan bahwa Isa a.s. merupakan salah satu tanda akan datangnya hari kiamat.
“Dan sesungguhoya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan rentang hari kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang hari kiamat itu dan ikutilah aku. lnilah jalan yang lurus. " (az-Zukhruf: 61)
lbnu al- jauzi mengatakan bahwa arti perlama dari ayat ini adalah bahwa Isa a.s. merupakan salah satu tanda alau prasyaral akan dalangnya hari kiamat. Kita bisa katakan bahwa ayat ini dengan jelas mengindikasikan bahwa Isa akan kembali ke bumi pada akhir zaman. Hal tersebut di karenakan Isa a.s. telah hidup enam abad sebelum turunnya Al-Qur'an. Konsekuensinya, kita tidak dapal menginterprelasikan kedatangannya yang kali pertama sebagai tanda hari kiamat. Apa yang sebenarnya ingin diindi kasikan oleh ayat ini adalah bahwa Isa a.s. akan kembali kebumi pada akhir zaman, yang juga dapat dikatakan, selama periode akhi r sebelum datangnya hari kiamat dan ini akan menjadi satu tanda terjadinya nari kiamat. Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Bahasa Arab dari ayat, “Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat... " adalah "Wa innahu Ia 'ilmun lis-saa'ati... H. Beberapa orang menginterpretasikan kata ganti hu (kata ga nti untuk mudzakkar) dalam ayat ini sebagai Al-Qur'an, namun ayat-ayat s. ebel umnya secara eksplisit mengindikasikan Isa a.s. sebagaima na disebutkan dalam ayat,
"... Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israei... ". 3
Dalam Shahih Muslim juga dinyatakan bah wa had its yang menyatakan bahwa Isa a.s. akan turun ke tengah-tengah umat manusia pada akhir zaman telah sampai pada derajat muta watir, yaitu diriwayatkan oleh banyak orang di setiap generasi para sahabat yang tidak mungkin diragukan lagi keotentikannya, dan disebutkan sebagAIsalah satu tanda utama akan datangnya hari kiamat. (Shahih Muslim, 2/58)
Hudzaifah bin Usaid Al-Ghiffari mengata kan, "Rasulullah tiba-tiba menghampiri kami ketika kami sedang sibuk membahas beberapa masalah. Rasulullah lalu bersabda, 'Sedang mendiskusikan apa kalianr Kami berkata, 'Kam i sedang membicarakan hari akhir (kiamat). ' Rasulullah l alu bersabda, 'Hari kiamat tidak akan tiba sebelum kalian semua melihat tanda tandanya sebelum itu. ' Rasulullah lalu menye butkan tanda-tanda kiamat itu berupa asap, Dajjal, bi na tang melata (daabbah), terbitnya matahari dari sebelah barat, turunnya Isa bin Maryam ke bumi, Ya'juj dan Ma'juj, dan ter jadinya gerhana di tiga tempat (satu gerhana di sebelah timur, satu lagi di barat, dan satu lagi di tanah Arab), dan akhirnya adalah keluarnya api dari Yaman dan menggiring manusia pada tempat berkumpul mereka. " (HR Muslim)
4. Ayatlain yang mengindikasikan kedatangan Isa a.s. adala h sebagAlberikut.
"(lngatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, se orang terkemuka di dunia dan akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan ma nusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah salah seorang di antara orang orang yang saleh. 'Maryam berkata, 'Ya Tuhan ku, betapa mungkin aku mempunyai anak, pa dahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun. ' Allah berfirman (dengan peran taraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah ber kehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah, ' lalu jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan lnjil. " (Ali lmran: 45-48)
Dalam ayat tadi dijelaskan bahwa Allah akan mengajarkan kepada Isa a.s. lnjil, Taurat, dan "Al-Kitab". Tidak diragukan, kala kitab ini adalah penting untuk dipertanyakan. Kita perhatikan ungkapan yang sama dalam surah ai-Maa'idah ayat 110,
“(lngatlah), ketika Allah mengatakan, 'Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat ber bicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) ketika Aku mengajar kamu Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan lnjil... “ (al-Maa'idah: 110)
Ketika kita anal isis kala Kitab dalam kedua ayat di atas, kita pahami bahwa Kitab yang dimaksud adalah Al-Qur'an. Apal agi, hanya ada satu kitab yang pasti dfi muka bumi ini selain Taurat, Zabur, dan lnjll. Di samping itu, dalam ayat lain dalam Al-Qur'an, selain untuk Taurat dan lnjil, kata Kitabdigunakan untuk mengindi kasi kan Al-Qur'an,
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disem bah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri. Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebe- . narnya; membenarkan kitab yang telah ditu runkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan lnjil, sebelum (Al-Qur·an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Fur qaan... “ (Ali Imran: 2-4)
Dalam hal ini, kita pertimbangkan dengan baik bahwa kitab ketiga yang akan diajarkan Isa a.s. adalah Al-Qur’an dan kita dapat meng asumsrkan bahwa ini memungkinkan hanya jika dia (Isa a.s.) datang ke bumi. Isa a.s. hidup 600 tahun sebelum diturunkanya Al-Qur’an dan adalah tidak mung. kin dia telah mengetahui Al-Qur’an sebelum diturunkannya. Dalam hal ini, bahwa dia akan mempelajari Al-Qur’an selama persinggahannya yang kedua di bumi merupa kan suatu keterangan yang masuk akal.
lni juga diterangkan dalam hadits ahad berikut ini.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Demi Zat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, putra Maryam benar benar akan segera turun ke tengah-tengah kamu sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salibdartakan membunuh babi dan akan menghapuskan jizyah. Harta saat itu akan me· limpah sehingga ridak ada seorang pun yang akan menerimanya. Sehingga, sujud satu kllli saja kala itu jauh lebih baik dari dunia dan isinya.” (HR Bukhari)
Para ulama dan ilmuwan muslim mengatakan bahwa makna dari had its tentang tindakannya sebagai seorang hakimlpenguasa yang adil ini adalah bahwa dia akan mengambil ke putusan sesuai dengan syariat Islam, dengan hukum-hukum dalam kitab Allah, Al-Qur'an, dan dengan Sunnah rasul Allah yang terakhir, Muhammad saw. . Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Sebagaimana yang diketahui, ayat-ayat tentang kembalinya Isa a.s. ke muka bumi sangat terang dan jelas. Tidak ada pernyataan-pemya taan yang sama yang dibuat untuk nabi yang lain yang ada dalam Al-Qur’an . Apalagi, tidak ada nabi lain yang dimaksudkan pada ayat, "Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar mem berikan pengetahuan tentang hari kiamat..., " dan tidak ada pernyataan dalam Al-Qur’an yang digunakan untuk nabi-nabi lain, termasuk konotasi, yang mengisyaratkan kembalinya mereka ke muka bumi. Semua pernyataan ini digunakan hanya untuk Isa a.s.. Maksud dari hal ini sangatlah jelas.

Ada Beberapa Contoh Manusia dalam Al-Qur'an yang Meninggal Dunia dan Kemudian Kembali tagi ke Buml Setelah Beratus ratus Tahun

1. Seorang manusia yang dihidupkan setelah satu abad.
Salah satu dari mereka adalah seseorang yang mati selama satu abad. lni diterangkan dalam surah Al-Baqarah,
“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan ) orang yang metalui suatu negeri yang (tembok nya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, 'Bagaimana Allan menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?'Maka Allah memati kan orang itu seratus tahun, kemudian menghi dupkannya kembali? Allah bertanya, 'Berapa lama kamu tinggal di sini?' Ia menjawab, 'Sayatelah tinggal di sini sehari atau setengah hari. 'Allah berfirman, 'Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minuman yang belum lagi ber ubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan men jadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manu sia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. 'Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata, 'Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. "' (al -Baqarah: 259)
Da lam ayat-ayat yang terdapat dalam pembahasan awal, ada penyebutan fakta bahwa Isa a.s. tidak wafat, tetapi "ditarik jiwanya", sedang kan pada ayat di atas, orang tersebut benar benar meninggal. Konsekuensinya, seorang yang telah meninggal dapat hidup kembali alas izin Allah. lni secara eksplisit diterangkan dalam Al-Qur'an.
2. Ashhabul Kahfi terbangun setelah beratus tahun.
Contoh lainnya diterangkan dalam kisah Ashhabul Kahf i yang terdapat pada surah ai Kahfi.
Allah menerangkan kisah para pemuda yang mengasingkan diri dari penguasa tiran yang kejam pada masanya dalam sebuahgua. Diterangkan bahwa mereka tertidur dan diba ngunkan kembali setelah beratus tahun lamanya tertidur. Ayat berikut menerangkan.
"(lngatlah) tatkala pemuda-pemuda iw mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo'a, 'Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini. 'Maka Kami wrup telinga mereka bebe rapa tahun dalam gua itu. " (al-Kahfi: 10-11)
"Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereh ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hilli) kamu akan dipenuhi dengan ketakutanter hadap mereka. Dan demikianlah Kami bangun kan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?'Mereka menjawab, 'Kita berada (di sini) sehari alau :setengah hari. ' Berkata (yang lain lagi), 'Tuhan kilmu lebih mengetahui berapa lamanya kamu ber. ada (di sini). Maka surtthlah seorang di antara kamu pergi ke kola dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia mernbawa makanan itu tmlukmu, dan hendaklah dia- berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-k-1li menceritakan halmu kepada seseorang pun. "' (al-Kahfi : 18-19)
Al-Qur’an tidak mener;Jngkan secara pasti berapa lama para pemuda tersebut tingga l di dalam gua, tetapi l amanya waktu yang diha· biskan tersirat dengan pernyataan "beberapa tahun". Akan tetapi, orang-orang mengira waktunya kuran g lebih 309 tahun. Allah berfirman,
"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah, 'Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tingal (di gua); kepunyaan Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan- Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan. "' (al-Kahfi: 25-26)
Tentu , yang menjadi masalah di sini adalah bukan panjang-pendeknya periode ini. Masa lahnya adalah Allah menarik jiwa manusia, baik dengan menjadikan mereka tertidur maupun dengan mewafatkan mereka, dari kehidupan ini dalam waktu yang tela h ditentukan dan kemu dian membangk i tkan mereka kembali. Seperti orang yang terbangun dari mimpi, Allah mem berikan kehidupan lagi kepada mereka. Isa a.s. adalah sa lah satu dari mereka dan-seiring dengan waktu- dia akan hidup kembali di dunia ini. Setelah memenuhi kewajibannya, dia akan wafat seperti manusia lainnya sesuai dengan firman-Nya,
“Di bumi itu kamu hidup dan dt bumi itu kamu matt, dan dari burnt ttu (pulaJ kamu akan dibangkitkan. “ (al-A'raaf: 25)

Footnotes

1. Prof. Suleyman Aces, Yuce Kur'am in Cagdas Tefsiri (The Contemporary Tafsir of the Holy Qur'an).
2. Tafsir of Omer Nasuhi Bllmen.
3. Prof. Suleyman Ates, Yuce' Kur'an in Cagdas Tefsiri (The Contemporary Tafsir of the Hol y Qur'an), vol. 6, hlm. 4281 .